Informasi Hilal Bulan Ramadhan 1445 H / 2024 M

Informasi Hilal Bulan Ramadhan 1445 H 2024 M
Informasi Hilal Bulan Ramadhan 1445 H 2024 M

 

ONLINEPLUS.ID – Informasi Hilal Bulan Ramadhan 1445 H / 2024 M – Pada Ahad Legi 29 Sya’ban 1445 H yang bertepatan dengan 29 Maret 2024 M dalam Kalender Hijriyyah Nahdlatul Ulama, akan berlangsung rukyah hilal penentuan awal Ramadhan 1445 H.

Rukyah hilal akan digelar jejaring Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) di seluruh Indonesia guna memenuhi metode penetapan awal bulan kalender Hijriyyah yang berterima dalam Nahdlatul Ulama.

Rukyah hilal merupakan pengamatan atau observasi terhadap hilal, yaitu lengkungan Bulan sabit paling tipis yang berkedudukan pada ketinggian rendah di atas ufuk barat pasca Matahari terbenam (ghurub) dan bisa diamati. Cara pengamatannya untuk saat ini terbagi menjadi tiga, mulai mengandalkan mata telanjang, mata dibantu alat optik (umumnya teleskop) hingga yang termutakhir
alat optik (umumnya teleskop) terhubung sensor / kamera. Dari ketiga cara tersebut maka keterlihatan hilal pun terbagi menjadi tiga pula, mulai dari kasatmata (bil fi’li), kasat teleskop dan kasat kamera.

Terlihat atau tidaknya hilal sangat bergantung pada sejumlah faktor. Mulai dari parameter Bulan sendiri (berupa tinggi atau irtifa’, elongasi dan ketebalan sabit Bulan), parameter optis atmosfer (konsentrasi partikulat pencemar, uap air dan sebagainya) dan seberapa besar sensitivitas mata / sensor kamera. Dalam ilmu falak modern, terlihatnya hilal sebagai lengkungan sabit Bulan sangat tipis adalah produk kombinasi antara kecerlangan Bulan sabit terhadap kecerlangan langit senja latar belakang (syafak) dan perbandingan kontras Bulan sabit–langit senja latar belakang terhadap sensitivitas mata / sensor kamera.

Singkatnya hilal terlihat jika intensitas cahaya dari Bulan sabit lebih besar dibanding intensitas cahaya senja dan nilai kontras Bulan sabit–syafak lebih besar dibandingkan ambang batas kontras mata atau kamera. Karena warna hilal cenderung putih sementara syafak cenderung merah jingga– kekuningan, maka secara alamiah kontras hilal relatif kecil. Kombinasinya dengan ketinggian yang sangat rendah terhadap ufuk dan pendeknya waktu yang tersedia sebelum Bulan terbenam, maka upaya pengamatan hilal menjadi salah satu tantangan besar bagi ilmu falak.

Sistem penanggalan yang berbasiskan siklus fase Bulan digunakan oleh lebih dari 2 milyar manusia masa kini. Jumlah yang setara sepertiga penduduk dunia saat ini. Tak hanya pemeluk agama Islam, kalender Bulan juga dipedomani oleh bangsa Cina dan sejumlah kalangan Nasrani, meski masing–masing mengambil bentuk yang berbeda–beda. Observasi hilal telah dilakukan bangsa Babilonia sejak 26 abad yang lalu. Meski demikian observasi modern yang sistematis dengan data yang lebih komprehensif sesungguhnya baru terlaksana dalam tiga dasawarsa terakhir.

Lewat observasi modern pula diketahui meskipun kita dapat menetapkan kriteria pembatas bagi terlihatnya hilal yang disebut kriteria visibilitas. Kriteria tersebut mengacu parameter tertentu (misalnya tinggi minimum, elongasi minimum, umur Bulan minimum maupun beda azimuth minimum). Kriteria visibilitas seperti itu merupakan hisab. Namun observasi modern menunjukkan garis pembatas ini tidak kaku sebab memiliki nilai ketidakpastian atau galat1. Maka meskipun parameter Bulan pada suatu kesempatan rukyatul hilal sedikit di bawah dari sebuah kriteria visibilitas, peluang terlihatnya hilal masih tetap terbuka. Hal ini menempatkan kriteria visibilitas sebagai sebuah
hipotesis verifikatif yang belum konklusif, meskipun diformulasikan sebagai piranti guna menalar– logiskan hilal sebagai bagian dari Bulan. Tetapi hilal memiliki hukum–hukum alamiahnya sendiri yang bisa lepas dari piranti matematis yang mencoba menghitungnya ketika nilai ketidakpastian diperhitungkan2.

Sifat demikian menjadi tantangan tersendiri mengingat syariat Islam membutuhkan batas yang tegas. Seperti tegasnya hitam atau putih, tidak campuran di antara keduanya (menjadi abu–abu). Karena terlihat atau tidaknya hilal menentukan halal dan haram khususnya dalam mengawali dan mengakhiri puasa Ramadhan. Dalam perspektif demikian maka kedudukan rukyah hilal untuk menetapkan awal dan akhir Ramadhan menjadi penting guna mengatasi ketidakpastian.

Rukyah hilal digelar dengan mengamati ufuk barat pada arah dimana Matahari dan Bulan berada. Prakiraan waktu terbenamnya Matahari & parameter Bulan disajikan oleh metode falak sebagai pendukung pelaksanaan rukyatul hilal. Lembaga Falakiyah PBNU melaksanakan perhitungan dengan metode falak (sistem hisab) jama’i atau biasa disebut hisab tahqiqy tadqiky ashri kontemporer khas Nahdlatul Ulama bagi seluruh Indonesia.

Selengkapnya untuk download Informasi Hilal Bulan Ramadhan 1445 H / 2024 M bisa >>> DOWNLOAD DISINI <<<

Baca Juga  Konferensi Pers Peluncuran Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru Tahun 2024